Tulisan saat SMA

Indahnya kampung halaman Mamah..

Tangan ini kugenggamkan dengan erat pada stang Motor Honda yang kubanggakan ini, rasa kantuk yang mengganggu sepanjang perjalanan pun seakan buyar, hati ini tegang , konsentrasiku-pun terpusat pada keseimbangan dan ketepatan gerakan mengemudikan sepeda motor. Bisa dibilang inilah puncak dari “asyik” nya Perjalana menuju Garut, apalagi kalau bukan Nagrek, Jalanan disepanjang pinggiran perbukitan Indah nan eksotis, walau bercampur suara, bau koopling, dan aspal kendaraan, keindahanya tak padam, bahkan seakan menjadi pelipur lara saat antrian kendaraan merayap naik turun, terjebak dalam Kemacetan.
Rem tangan, rem kaki, pedal Gas, dan kakiku yang kufungsikan jadi rem, semuanya kupadukan dengan penuh konsentrasi saat kumeluncur sangat pelan di atas turunan yang tajam diantara himpitan Bus, Mobil Minibus, Mobil kecil sampai truk pengangkut barang, dan itu sangat lebih berbahaya lagi ketika kuraba dengan kakiku, jalanan yang kulalui sangat licin bercampur pasir halus yang bisa sebabkan aku, adik dan motorku jatuh bagaikan para Rider GP yang jatuh saat menikung tajam di Sirkuit Assen pada saat musim panas. Hati ini berdo’a dengan khusyunya, Aku takut namaku muncul di berita Arus Mudik, terjatuh, ataupun kemungkinan buruk lainya, pikirku pun segera menolaknya, “tidak, jangan sampai sperti ini, niatku bersih, ingin bersilaturrrahim dengan Keluarga besarku di Garut, Allahu ma’ana, Tuhanku bersamaku”.
Selang setengah jam kemudian. Kulihat dari kejauhan motor yang kutumpangi Ayah dan Ibuku melesat jauh meninggalkan ku, rasanya ingin kukejar dengan mesin 100 cc motorku ini. Kami pun meninggalkan tanjakan Nagrek yang begitu Indah, sejuk, ramah , namun menyimpan berjuta misteri, Misteri yang belum terpecahkan sampai Idul Fitri 1430 H, misteri yang sebabkan Orang sakit duduk dan merasa kesal lama-lama di Kendaraanya, misteri jalanan kota Metropolitan, yaitu maceeeeeeeeeeeeeet!!.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

SALESMAN

Hari yang melelahkan, teriknya matahari membakar sekujur badanku, peluh ini semakin kurasa, saat kulihat rumah mungilku begitu berantakan, sangat berantakan, bahkan bukan seperti rumah lagi. Kulangkahkan kakiku dengan tenagaku yang masih tersisa, berharap ketenangan hinggap di ubun-ubunku. Sayup-sayup terdengar suara hentakan keras yang menghujam di atas bumi. “Tidak salah lagi itu pasti Ibu, masak apa ya hari ini?“, gumamku dalam hati. Ibuku, setiap hari ia selalu tekun mengumpulkan kayu bakar, memotong-motongnya, merapikanya, menjemurnya jikalau basah, kemudian ia siapkan tungku perapian, meracik makanan, sumber kehidupan aku dan seluruh keluargaku, termasuk Ibu juga.
Kelulusan UN sudah hampir satu bulan berlalu, teman-temanku begitu disibukan dengan status barunya, Mahasiswa. Sementara waktu, aku tertegun melihatnya, kadang sahabat dan teman-temanku menghubungiku, hanya sekedar memberi kabar bahwa mereka diterima di perguruan tinggi bergengsi ataupun yang lainya. Hingga sebuah testimoni menggertak jiwaku yang kosong, hal yang sebelumnya tak pernah kubayangkan. “Nak, sebaiknya kamu segera cari kegiatan, minimal kamu tidak nganggur, bagus-bagus jikalau kamu bisa dapat kerjaan yang layak, Mamah mulai berpikir, kalau untuk kuliah ,uang yang kita punya tak sebanding dengan biaya kuliah yang terus membengkak, jadi pikirkan lagi rencanamu yang mau kuliah itu“, ibuku demikian berkata disela-sela keringat yang turun membasahi rona mukanya yang kemudian diusapnya. Hatiku hancur, batinku pun meringis, lelahku pun semakin menjadi, lemas sekali badan ini, aku pun tak berkomentar, diam, beralalu masuk ke kamar dan beristirahat pulas.
Azan Ashar pun berkumandang, aku terbangun, suara azan itu semakin keras, seakan menyuruhku lebih keras lagi untuk bangkit dari ranjangku.“Astagfirulloh, berat sekali mata ini, huh, aku harus bangun, harus, ibu bilang nanti ada yang akan menawarkan kerja buatku, jangan sampai lewat kali ini, Ashar dulu ah“, aku berkata sambil kulipat selimutku yang tadi dipakai tidur.
Sore ini, sore yang sangat berarti bagiku, ibu mengenalkanku kepada seorang berpenampilan rapi, dia adalah Bang Tohang, kenalan ibu semenjak ibu membeli TV cicilan satu tahun lalu. Kujabat tanganya, seakan dia adalah jawaban dari semua permasalahanku. “Oh ini Hadi itu, anaknya lumayan rapi, cocok dan kayaknya rajin, bukankah begitu Bu Nung anakmu?”, ucap Bang Tohang sambil melepaskan jabatan tanganya. ”Oh, iya Bang, ini anak ibu yang pertama, insya Allah tidak akan mengecewakan, ya kan Hadi?”, Ibu terlihat gugup menjawab pertanyaan Bang Tohang. “Insya Allah, do’akan saja”, jawabku tanpa ekspresi. Sore-pun berlalu, malam di hari itu, aku lewati dengan biasa-biasa saja, hanya saja aku terbangun ketika hari beranjak Subuh, sekitar pukul tiga pagi, aku-pun bergegas menunaikan Shalat Tahajud, berharap tawaran kerja dari Bang Tohang bisa memberikan solusi bagi masalahku.
Pagi-pagi sekali aku sudah siap dengan baju yang rapi, sepatu bekas kupakai ketika sekolah dulu pun tak luput dari polesan rapi hari itu. “Mah, Hadi pergi dulu ya, do’akan supaya hari ini Hadi bisa langsung kerja, assalammu’alaikum!!” Aku pergi sambil berpamitan kepada Ibu seorang diri di rumah. “Wa’alaikumsalam, hati-hati Nak, do’a Ibu menyertaimu, jangan lupa shalatmu!!“, Ibu melepasku dengan senyuman, do’a, dan tanda harapan yang terpancar dari raut mukanya yang putih berseri.
Tidak lebih dari setengah jam aku berada di kantornya Bang Tohang, saat itu juga aku langsung diberi pengarahan tata cara mendapatkan konsumen, meyakinkanya, memobilisasi, dan menguncinya sebagai konsumen. Aku dibekali satu paket kumpulan file-file kertas brosur,dan sebuah nametag yang berisikan identitasku dan perusahaan dimana aku bekerja ini, hanya itu. “Soal gaji, kita transparan aja ya, kau ku gaji dua ratus ribu perbulan sebagai gaji pokok, kalau kau dapatkan satu konsumen kau dapat bonus seratus ribu, tapi itu hanya untuk konsumen barang di atas satu juta yang kau dapatkan, prosedur kerja harus kau taati, setiap kau mulai kerja, kau harus absensi dulu ke sini, biar saya catat, hari ini kau boleh mulai kerja, saya harap kau betah dengan pekerjaan ini“, ucap seorang bertubuh gendut, berkacamata tebal, duduk bersandar di sebuah kursi besar di sebuah ruangan yang lumayan besar, dan dia tak lain adalah kepala bagian keuangan perusahaan ini, perusahaan tempat dimana aku kerja di dalamnya. Aku bekerja sebegai seorang sales promosi sebuah Perusahaan jasa cicilan barang-barang elektronik, walaupun berat, aku tetap menjalaniya.
Tak sampai satu minggu aku bekerja pada perusahaan itu, bukan pemecahan masalah yang kudapatkan, rasanya waktu semakin menghimpit ragaku. Menjadi Sales promosi rasanya membunuh potensi dan membenamkan semua cita-citaku dulu. Dengan jam kerja yang tidak menentu, dan dengan prospek yang tidak begitu menjanjikan, akhirnya ku berhenti di persimpangan hari keenam. Ibu mendukung keputusanku, dia merasa iba jikalau anaknya terkatung-katung di jalanan Kota Bandung dengan perut kosong dan penghasilan yang tak seberapa, Namun ibu berkata:”Nak, semuanya tidak ada yang instan kalau kamu mau sukses, rintislah jalan hidupmu dari mulai sekarang, biarpun kita jadi seorang pemulung sekalipun, asalkan itu langkah pertama untuk mencapai kesuksesan, kenapa tidak?, Ya udah sekarang bantu ibu siapkan makanan buat buka puasa nanti, sekarang hari Kamis, jangan lupa saat berbuka nanti, berdo’alah supaya Allah berikan kasih sayang-Nya, kau diberikan jalan untuk menemukan cita-citamu, bukankah do’a orang berbuka puasa itu diijabah?”. “Betul Mah, siap!”, jawabku.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tugas PKO Siang

Nama : Muhammad Ajron Abdullah

NRP : I34100152

Tugas PKO Siang tanggal 20 september 2011

 

Pertanyaan dan Jawaban:

1. Apa yang dimaksud dengan retensi dalam pengolahan informasi?

Jawab :

Proses memindahkan informasi ke memori panjang (long term memory). Informasi yang disimpan adalah interpretasi konsumen terhadap stimulus yang diterimanya.

2. Bagaimana konsumen dapat mencapai tahap retensi ketika mengolah sebuah informasi?

Jawab :

Setelah konsumen menginterpretasikan stimulus yang diterimanya. Dan hasil interpretasi tersebut telah mengalami proses perhatian, pemahaman, dan penerimaan. Setelah itu barulah masuk ke tahap retensi.

3. Mengapa konsumen tidak menerima semua stimulusnya ke dalam porsi yang sama dalam tahap penerimaan informasi ?

 

Jawab :

Setiap konsumen memiliki selera yang berbeda dan memiliki tanggapan yang berbeda pula. Tergantung kapasitas yang dimiliki konsumen, baik pengetahuan, pengalaman, ataupun kemampuannya.

 

 

Nama : Muhammad Ajron Abdullah

NRP : I34100152

Tugas PKO Siang tanggal 20 september 2011

 

Pertanyaan dan Jawaban:

1. Apa yang dimaksud dengan retensi dalam pengolahan informasi?

Jawab :

Proses memindahkan informasi ke memori panjang (long term memory). Informasi yang disimpan adalah interpretasi konsumen terhadap stimulus yang diterimanya.

2. Bagaimana konsumen dapat mencapai tahap retensi ketika mengolah sebuah informasi?

Jawab :

Setelah konsumen menginterpretasikan stimulus yang diterimanya. Dan hasil interpretasi tersebut telah mengalami proses perhatian, pemahaman, dan penerimaan. Setelah itu barulah masuk ke tahap retensi.

3. Mengapa konsumen tidak menerima semua stimulusnya ke dalam porsi yang sama dalam tahap penerimaan informasi ?

 

Jawab :

Setiap konsumen memiliki selera yang berbeda dan memiliki tanggapan yang berbeda pula. Tergantung kapasitas yang dimiliki konsumen, baik pengetahuan, pengalaman, ataupun kemampuannya.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Say No To Drugs!! Jadikan Hidupmu Lebih Berkualitas!!


Alangkah istimewanya hidup manusia, dikaruniai akal, hati, dan nafsu yang juga menggerakan jiwa dan raganya yang tidak kalah sempurna.  Potensi itu kemudian melahirkan orang-orang yang spektakuler, menjadi manusia yang bermanfaat bagi semua yang ada di sekelilingnya. Apa yang kita dapatkan di masa depan adalah buah dari apa yang kita lakukan di masa kini. Berani membuat keputusan di masa muda, menjadi prestatif dengan prestasi gemilang atau menjadi terbelakang karena narkoba adalah cerminan bingkai masa depan kita. Narkoba membuat segala sesuatunya menjadi suram.

Survei yang dilakukan BNN (Badan Narkotika Nasional) memperlihatkan semakin meningkatnya jumlah pengguna narkoba di Indonesia. Bahkan wilayah peredarannya pun sampai ke tingkat keluarga (industri keluarga), sangat memprihatinkan. Narkoba karena himpitan ekonomi, terjerumus, coba-coba atau dikibuli teman, itulah salah satu potret  kehidupan masyarakat kita. Apakah kita akan diam saja? Tentu saja tidak, sekali lagi tidak, tidak ada tempat untuk narkoba di negeri yang kita cintai ini.

Tentu saja kita tidak mau sukses dan bahagia sendirian. Ada puluhan juta teman kita sesama pemuda dan pemudi di seantero negeri ini. Mereka adalah saudara kita, ahli waris nenek moyang negeri ini, negeri yang sangat kaya akan sumber daya. Sesekali tidak ada salahnya jika kita berkunjung ke daerah pinggiran kota , tempat dimana tindakan kriminalitas banyak terjadi, salah satunya penyalahgunaan narkoba. Lihatlah dengan mata kemudian buka mata hati kita, tanyakan pada hati kita yang bersih,  tidak ada aksi kita yang tidak akan bermanfaat jika kita tidak memulainya. Gejala penyalahgunaan narkoba bukan karena dampak urbanisasi yang hanya masuk dalam data statistik saja, tetapi sebuah masalah bersama yang harus diselesaikan secara bersama, massive, dan berkelanjutan.

Kenali musuh dan menangkanlah perang besar melawannya. Ya, solusi jitu yang selama ini kurang efektif adalah sosialisasi intensif kepada masyarakat tentang penyalahgunaan narkoba. Pendidikan yang seharusnya lebih ditekankan, bukan hanya pengajaran yang sebatas slogan-slogan belaka. Gejala penyalahgunaan Narkoba seperti siklus jamur, satu mati yang lainnya tumbuh subur tanpa henti. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian lebih setiap jiwa-jiwa yang sadar dan peduli akan kehidupan manusia yang berkualitas. Pemerintah beserta jajarannya, masyarakat, dan keluarga adalah instrumen penting yang bisa bekerja sama untuk memerangi penyakit akut narkoba yang sudah lama menggerogoti bangsa ini.

Remaja Usia 12 -18 tahun adalah saat yang paling rawan dan rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Seseorang dapat kenal dengan narkoba dari teman seusianya, kakak kelasnya di sekolah, atau bahkan dari kelompok/grup-grup ysang mereka ikuti di lingkungan masyarakatnya. Namun yang jadi masalah mereka dikenalkan bukan untuk menghindarinya, tetapi untuk mencoba dan menggunakan. Inilah yang menjadi masalah,  kita kalah cepat mengenalkan narkoba sesungguhnya beserta bahayanya kepada adik-adik kita,  mereka masih awam dengan gejala sosial di sekitarnya.

Karena itu tugas kita memaksimalkan periode 12-18 tahun usia seorang manusia agar diperoleh manusia-manusia berkualitas baik individunya maupun sosialnya. Memaksimalkan potensi akal, nafsu, dan hati manusia untuk membuahkan output yang sempurna adalah sebuah karya yang sangat spektakuler jika kita berhasil merealisasikannya. Pendidikan ilmu pengetahuan yang membentuk karakter istimewa adalah salah satu metode yang sangat tepat diterapkan di negara Indonesia yang memilik banyak potensi daerah yang majemuk.

Semua berawal dari grup interaksi yang paling kecil,  dan itu adalah keluarga, ayah, ibu, dan saudara terdekat kita. Interaksi interpersonal yang terjalin lebih kuat menghasilkan harmonisasi antara pengetahuan dan karakter yang terbentuk. Seorang dengan pendidikan  paripurna yang diajarakan  keluarganya pendidikannya itu akan menjadi benteng penghalang bagi dirinya dari pengaruh negatif lingkungan sekitarnya, bahkan dengan sendirinya secara otomatis menghalau dan menyaring pengaruh negatif itu, meski tanpa perintah secara langsung. Karena itu, mulailah untuk mencintai keluarga kita, teman sebangku kita, sepermainan kita, satu pekerjaan dengan kita, satu bangsa dan tanah air dengan kita, katakan pada mereka : “ Say no to Drugs, jadikan hidupmu berkualitas”.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Percayalah Pada Dirimu, Kamu bisa !!

Muhammad Ajron Abdullah I34100152, LAskar 24

Pagi yang cerah,    26  Maret 2010.   Hari yang menegangkan , bahkan suasana tegang ini sempat memanaskan seantero negeri ini. Itulah UN, hari saat UN dilaksanakan. Berbagai persiapan telah dilakukan, baik fisik, psikis, dan materi pelajaran. Semua rasanya telah optimal dilakukan, namun tetap saja banyak gerak-gerik mencurigakan, bahkan sudah menjadi terang-terangan perilaku curang,  telah menjadi salah satu pilihan penenang perasaan.

Suasana tiba-tiba pecah saat bel berbunyi tanda Ujian akan dimulai. Tepat lima belas menit sebelum ujian dimulai kami telah siap di ruangan kelas. Jauh hari sebelum ujian dilaksanakan, alhamdulillah banyak motivasi yang saya dapatkan, salah satunya kejujuran, hal yang telah  hilang dalam kebanyakan masyarakat kita. Memang tidak salah, dan  saya buktikan sendiri saat Ujian Nasional berlangsung. Karena itu, berbekal ilmu yang saya dapatkan dan hati yang turut membenarkan, kubulatkan tekadku bahwa aku bisa menempuh ujian ini, dan aku percaya akan kemampuanku.

Lima Hari Ujian Nasional berlangsung, banyak sekali hal-hal yang tidak kupikirkan sebelumnya.  Hari pertama saat aku pulang Ujian, kulihat di salah satu stasiun TV ternama,  menampilkan berita tentang banyaknya kecurangan yang terjadi baik sebelum, sedang, ataupun sesudah ujian di laksanakan. Ibu pun yang kala itu ikut menonton berita menanyakan perihal itu padaku. “ Kamu bisa Ujian tadi?? “, Tanya Ibu. “ Bisa Bu, Alhamdulillah”, jawabku. “Tapi ingat, jangan sampai kecewakan Ibu, jika merasa tidak mampu jangan diam saja”, tutur Ibu.  “Loh, kok Ibu bilang begitu??“, tanyaku seakan aku tahu maksud Ibu. “Iya Ibu tau itu tidak baik, tapi jika satu sekolah, bahkan hampir semua pelajar SMA di negeri ini begitu, apakah kamu mau tertinggal dari mereka??“, Ibu menjawab pertanyaanku. Aku pun berlalu, dan pergi ke kamar sejenak untuk beristirahat.

Ucapan Ibu terus terpikirkan olehku. Namun di dalam hatiku selalu ada penolakan untuk melakukan hal itu. Dengan mengucapakan bismillah, sudah bulat tekadku untuk tetap teguh dalam pendirianku ini. Sampai lima hari itu pun selesai, aku lega menjalaninya. Alhamdulillah.

Ketegangn pun berubah bentuk menjadi kecemasan, satu bulan aku menunggu hasil  Ujian Nasional. Hari demi hari pun berlalu. Hati yang berdebar-debar turut mewarnai pikiranku yang kemudian menarawang jauh ke dapan, memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi pada tanggal 26 April 2010, tepat saat hasil Ujian Nasional diumumkan.

Alhamdulillah, berita bahagia pun kuterima. Semua siswa jurusan IPA di Sekolahku lulus semua. Bahagianya diriku, sujud dyukur pun tak lupa aku haturkan. Bahkan setelah satu minggu kemudian,  aku mengetahui  jumlah nilaiku, dan memuaskan. Kini aku menjadi semakin yakin, bahwa mempercayai kemampuan sendiri, belajar secara optimal, dan bertawakal kepada Allah adalah kunci sukses dalam menempuh ujian, bahkan tidak hanya Ujian di Sekolah, hal itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan hikmah ini kini kujadikan salah satu inspirasi dalam hidupku. Semoga keistiqamahan dianugerhakan kepada kita semua.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Inspirasi dari Sebuah Keyakinan

Muhammad Ajron Abdullah  I34100152, LASkar 24,

Satu bulan yang rasanya seperti satu tahun. Suasana sedih kerap meliputi hati di setiap hari. Akid, anak sulung dari sebuah keluarga besar yang tinggal di salah satu perumahan elit di Jakarta , begitu pucat wajahnya di malam itu. Tepat pukul dua belas malam Ia sampai di rumah nya di Kawasan Menteng Jakarta Utara. Tidak ada kegiatan yang ia lakukan sesampainya di rumah. Setelah mengunci pintu rumah, ia langsung tertidur pulas di Sofa ruang tamu.

Nampak di raut mukanya menunjukan perasaan pilu. Sakit Ibunya yang sejak 5 tahun yang lalu telah membuatnya mengerti tentang arti pengorbanan dari seorang ibu. Dan sejak satu bulan yang lalu ibunya terbaring di ICU, dokter mengatakan bahwasanya ibu sedang dalam keadaan koma.

Tiga jam pun berlalu,  jam dinding menunjukan pukul tiga malam. Tanpa disadari Akid terbangun, tak sperti biasanya ia bangun, pikiranya begitu cerah dan rasa kantuk pun tidak ada. Segera saja ia mengambil air wudhu, tak mau melewatkan kesempatan yang langka ini. “Mungkin Allah telah menggerkan hati ini untuk menghadap-Nya di heningnya malam ini ”, begitu ucapnya dalam hati. Dalam setiap gerakan shalatnya, ia begitu menikmati. Dalam setiap bacaan shalat diresapi olehnya. Akhirnya, shalat malam pun ia tutup dengan sebuah do’a : “ Ya Allah, aku  mengetahui bahwasanya engkau lebih mengetahui daripadaku, engkau lebih kuasa dari dokter-dokter yang menangani sakit ibuku. Selama ini yang kusaksikan, ibu menjadi jauh dari-Mu, bahkan untuk sekedar mendengarkan lantunan ayat suci-Mu, suster-suster di rumah sakit melarang, katanya berisik, mengganggu orang lain. Rabb, sungguh terguncang hati ini. Karena itu, mantapkanlah niatku untuk membawa ibu ke rumah saja. Aku yakin ibu rindu akan bacaan kalam -Mu yang dilantunkan, ibu rindu akan air wudhu yang segar tatkala dibasuhkan di wajah. Karena itu,  Ya Alllah perkenankan keputusanku ini adalah keputusan yang terbaik, terbaik bagi masa depan ibuku kelak di akhirat:“.

Memang, Ibu dirawat di salah satu rumah sakit yang sekuler. Dan itu merupakan hal yang bertentangan dengan prinsip akid dan keluarganya. Sampai pada sebuah kesempatan di sebuah malam, tepatnya malam jum’at di bulan Maulid. “Inilah keputusan yang terbaik, keputusan yang sudah matang. Aku yakin ayah di alam barzah sana mendukung keputusanku ini. Apapun yang terjadi setelah keputusanku ini dilaksanakan, tanggung jawabku. Cepat lepaskan semua peralatan medis yang membelenggu ibu, yakinlah Allah SWT akan memberikan yang terbaik !!“ begitu Akid berkata dihadapan keluarga besarnya di lobi Rumah Sakit.

Sebuah Mukjizat hadir di ruang ICU malam itu. Sebuah hal yang tak masuk logika diperlihatkan oleh kekuasaan Allah SWT.  Ekspresi yang muncul setelah perawat melepaskan alat-alat medis sungguh diluar dugaan. “Alhamdulillah !!”, begitu ibu berucao dengan sangta jelas, bahkan sepeti tidak sedang mengalami sakit yang parah. Semua orang yang hadir di malam itu pun sontak menitikan air mata, ada yang percaya namun ada pula yang menyebutnya sebagai kebetulan saja. Akid lansung melakukan sujud syukur diikuti oleh keluarga yang lainya, seraya mengucapkan ”  takbir Allohu Akbar!!!”

Satu tahun telah berlalu, kini musim haji telah tiba. Allah SWT mengundang Akid bersama ibunya untuk menunaikan rukun islam yang kelima ini. Tak ada yang spesial saat keberangkatan mereka, namun akid teringat ucapan Ibu saat ayah masih ada. Cita-cita yang ingin ia wujudakan adalah bersimpuh di Baitulloh dalam balutan pakaian ihram. Dan semua itu pun telah tercapai, bahkan Allah SWT lebih  menyayangi Ibu, ia berpulang kehadapanNya di tanh yang Allah janjikan kebaikan daripadanya, Ibu meninggal saat ia berusaha mengecup hajar aswad. Senyum nya yang tulus menjadi pemandangan terakhir saat Akid turut menguburkan jasad ibunya  di pemakaman kota Jddah. Ibunya telah berpulang dalam kondisi yang baik, lebih baik daripada harus meniggal dalam suasana memprihatinkan terbelenggu oleh alat medis dan aturan yang menjauhkanya dari kasih sayang Allah SWT.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Pilih Jomblo ataukah Pacaran?

JOMBLO. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?

Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.

…predikat jomblo begitu menakutkan buat remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini…

So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.

Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)

Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak   nyari pacar. Tulalit banget kan?

Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

…konsep diri remaja yang salah, merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran…

Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!

Kenapa harus pacaran?

Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?

…Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia…

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah SAW:

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka  adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.

Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan.

…Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran…

Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?

Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound: Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

…Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan….

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung datang ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?

Jomblo Tapi Shalihah

Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini. Berkerudung tapi pacaran. Berkerudung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

…predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat…

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo!

Sumber : [riafariana/voa-islam.com] http://www.voa-islam.com/teenage/young-spirit/2010/02/20/3457/pilih-jomblo-ataukah-pacaran/

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Wah…, 9 hari Macet Lalu Lintas ??? Ada gitu??


AFP

Beijing – Kemacetan luar biasa terjadi di dekat Beijing, China. Ribuan kendaraan, kebanyakan truk-truk, mengantre hingga sepanjang 100 kilometer dan kemacetan pun timbul selama… 9 hari!

Kemacetan di Jalan Tol Nasional 110 itu terjadi sejak 14 Agustus lalu. Kemacetan di ruas jalan tol yang menghubungkan Beijing-Tibet itu diperparah dengan kendaraan yang rusak dan perbaikan jalan.

Demikian disampaikan juru bicara Biro Manajemen Lalulintas Beijing kepada Global Times seperti dilansir AFP, Selasa (24/8/2010).

Akibat macet total tersebut, beberapa pedagang setempat menjual air minum dan makanan untuk para sopir yang terjebak macet dengan harga selangit.

Stasiun televisi China memberitakan bahwa situasi pada Senin, 23 Agustus waktu setempat sudah kembali normal.

Global Times memberitakan perbaikan jalan diperkirakan baru akan selesai pada pertengahan September mendatang. Operasi perbaikan jalan itu dilakukan untuk memperbaiki kerusakan jalan yang ditimbulkan oleh meningkatnya truk-truk kontainer yang melintasi jalan tersebut.

Jalan tersebut banyak digunakan oleh truk kontainer bertujuan Beijing yang mengangkut batu bara dari wilayah Inner Mongolia.

Sumber : detikNews, 24 Agustus 2010

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Selamat Hari Lahir Negeriku

Alhamdulillah, ditakdirkan untuk diamanahi kesempatan mencari Ilmu di IPB adalah karunia Allah SWT yang wajib disyukuri. Kampus Shaleh dengan kemajemukan yang ada di dalamnya membuatku paham akan adanya perbedaan. Tak salah jika IPB disebut miniatur kecil Bangsa INDONESIA. Merdeka!!!.

Esok (17 Agustus 2010) , 65 tahun Indonesia berkarya. Masih banyak permasalahan yang belum diselesaikan. Jangan terlena dengan medali emas yang diperoleh di Olimpiade Ilmu Pengetahuan Dunia, jangan terlena dengan pujian Bangsa Barat kepeda kita,  karena kita yang lebih tahu masalah kita. Puluhan juta rakyat miskin masih  terbelenggu lingkaran jahiliyah.  Karena kesejahteraan tidak bisa diidentikan dengan kekayaan yang melimpah. Kesejahteraan adalah keberkahan hidup yang diperoleh oleh masyarakat yang beradab, dan berahlak baik.

Indonesia negara besar, Kekayaan yang melimpah menjadi tidak berkah karena pemimpinya tidak amanah. Pemimpinnya saja sudah tidak amanah apalagi rakyatnya, “ikut sajalah”, begitu katanya.

Ayo, momentum Ramadhan ini kita jadikan kesempatan untuk berkontemplasi, merncanakan  kesuksesan yang akan kita reguk nikmatnya di masa depan. Dengan ikhtiar yang maksimal , d0′a dan tawakkal.

Selamat Hari Kemerdekaan Yang ke 65,

bangunlah jiwanya, bangunlah badannya

Hiduplah Indonesia Raya

Categories: Uncategorized | 2 Comments